Artikel Fakta-fakta di Balik Demo 100 Hari Pemerintahan SBY-Boediono

Artikel Fakta-fakta di Balik Demo 100 Hari Pemerintahan SBY-Boediono

Dibuat untuk tugas tulisan mata kuliah softskill organisasi dan arsitektur komputer

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

UNIVERSITAS GUNADARMA

 

 

Disusun oleh :

Nama : I ketut Suastika

Npm : 26409886

Jenjang / jurusan : S1 / TEKNIK MESIN


Fakta-fakta di Balik Demo 100 Hari Pemerintahan SBY-Boediono

Waspadai Gerakan Komunis di Balik Demo Menuntut Pemakzulan

DESCRIPTION

Dalam peringatan ke-100 hari kinerja pemerintahan SBY, telah terjadi demonstrasi besar-besaran di seluruh wilayah Indonesia, seperti Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah bersama 53 elemen rakyat lainnya yang tergabung dalam Gerakan Indonesia Bersih melakukan aksi damai “kepung” Istana Merdeka, tepat pada hari ke-100 peringatan Pemerintahan SBY, Kamis (28/1/2010).

Terkait hal di atas, kami mengajak seluruh komponen bangsa, janganlah situasi yang sudah kondusif dan kita nikmati seperti ini harus dirusak dengan peristiwa sesaat. Sesuai UU No. 9 tahun 1998 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum, bahwa setiap orang bebas menyampaikan pendapat akan tetapi ada aturannya.

Harus tertib, dan jangan ada kekerasan apalagi memprovokasi atau menghasut. Selain itu, masyarakat perlu menginformasikan kepada aparat keamanan dalam hal ini kepolisian apabila akan menggelar aksi unjuk rasa. Hal itu untuk mengantisipasi penyusupan dari kelompok tertentu khususnya gerakan komunis yang ingin memanfaatkan situasi.

Kita semua harus ingat! bahwa gerakan kaum komunis, kalau kita amati dilakukan dengan dua pola, yakni gerakan pertama adalah bergerak secara “formal di atas permukaan”, mereka akan bergerak dan menjelma serta menghimpun di berbagai kekuatan potensi masyarakat, seperti di kalangan buruh, tani, nelayan, seniman, kaum wanita, pelajar, mahasiswa, TNI/Polri, legislatif, pemerintah dan kaum dhu’afa/rakyat miskin yang dipandang sebagai kaum proletariat rakyat jelata.

Mereka bisa menghujat hak-hak buruh, kaum wanita, tani dan lain-lain. Karena itu, bagi gerakan komunis “lapangan kemiskinan” merupakan sasaran empuk untuk digarap dan dibina agar bisa mengadakan resistensi (perlawanan) terhadap ketidakadilan penguasa. Bahkan mereka berusaha melemahkan aparat keamanan (TNI/Polri) dengan membentrokannya, karena apabila aparat keamanan lemah, maka mereka dapat dengan mudah menguasai negeri ini.

Gerakan kedua, dengan menciptakan “public opinion” (opini publik) dalam rangka mempengaruhi massa untuk mendukung gerakan mereka. Kemudian mereka juga bergerak di bawah permukaan/underground/gerakan bawah tanah, khusus untuk membina pengkaderan dengan target “melahirkan kader-kader komunis yang militan” dan tahan banting dalam menghadapi berbagai macam kemungkinan, bahkan tidaklah mustahil mereka akan menjurus ‘latihan militer’ dalam rangka merebut kekuasaan.

Oleh karena itu, setelah kita semua mengetahui gerakan komunis seperti yang diuraikan di atas, hendaknya seluruh lapisan masyarakat khususnya para pendemo harus mewaspadai gerakan mereka, jangan mudah terprovokasi. Kita semua harus membuka mata lebar-lebar, pasang telinga baik-baik, analisa berbagai tindakan dan gerakan di lapangan yang akan menghancurkan tujuan mulia para demonstran khususnya dan NKRI ini. Awas! Jangan lengah terhadap gerakan komunisme, di Indonesia mereka kini hidup kembali.

Pengirim:
Hj. Siti Umiyati
Jl. Raya Wangun Tajur
Ciawi – Bogor

 

Jakarta – Wakil Ketua DPR Laode Ida menilai isu demo besar pada 20 Oktober yang berujung pada penggulingan pemerintahan SBY berlebihan. Kecil kemungkinan Presiden jatuh di tengah jalan akan terjadi.

“Kecil kemungkinan bisa terguling, eskalasi arusnya tidak terlalu kuat,” kata Laode saat dihubungi detikcom, Selasa (12/10/2010).

Berkumpulnya tokoh-tokoh politik belakangan ini untuk mengkritisi 1 tahun pemerintahan SBY-Boediono yang akan ‘dirayakan’ 20 Oktober mendatang, hanya merupakan ekspresi ketidakpuasan publik atas kinerja pemerintahan SBY selama ini.

“Mereka tidak puas dan gerah, selama 1 tahun ini tidak ada kepastian perubahan dan manfaat bagi negara ini,” ujar senator dari Sulawesi Tenggara ini.

Meski ada sebagian tokoh yang memang ingin agar pemerintahan SBY segera berakhir, ini harus dimaknai oleh pemerintah untuk mawas diri.

“Ini sebagai peringatan keras agar SBY segera melakukan introspeksi dalam melakukan kepemimpinan,” kata Laode.

Menurutnya, pemerintahan SBY sekarang ini banyak kelemahan. Mulai dari lambatnya penuntasan kasus korupsi hingga penanganan bencana.

“Indikatornya bisa dilihat dari good governance, dan bisa dilihat yang sekarang yang terjadi di Wasior yang belum maksimal,” ujar Laode.

Sebelumnya politisi Partai Demokrat (PD) Max Sopacua mewaspadai munculnya gerakan penggulingan pemerintahan SBY di tengah jalan. Dia berharap kritik keras terhadap Pemerintahan SBY tidak berujung pada upaya memutus Pemerintahan SBY di tengah jalan.

“Sejauh ini kami melihat banyak kritik keras dari masyarakat. Kami harap kritik tersebut untuk membangun bangsa, jangan sampai hal itu berubah menjadi yang lebih ekstrem lagi sebagai upaya menggulingkan Pemerintahan SBY,” tegas Wakil Ketum PD Max Sopacua di Gedung DPR.

Max mencermati statemen sejumlah tokoh seperti Ketum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Jusuf Kalla (JK), dan tokoh-tokoh lainnya yang cukup keras. Max berharap statemen tersebut bukan untuk menggoyang Pemerintahan SBY.

“Artinya jangan sampai mengobok-obok Pemerintahan SBY.  Mengkritisi harus diimbangi dengan memberikan solusi dengan cara yang baik,” imbau Max.

 

Kinerja pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, memasuki tahun ketiga menuai kritik. Di antara banyak kemajuan yang dicapai, publik masih menagih janji untuk menciptakan perubahan, terutama di bidang ekonomi dan penegakan hukum. Kemiskinan dan pengangguran masih membayangi perjalanan pemerintahan SBY ke depan.

Dampak dua kali kenaikan harga BBM tahun 2005 luar biasa. Sampai sekarang, puluhan juta orang hidup terseok-seok dalam kemiskinan. Departemen Sosial mencatat, sejak Oktober 2005, tidak kurang dari 19 juta keluarga miskin (KM) harus diberi bantuan langsung tunai masing-masing Rp 150.000, selama berbulan-bulan. Pemerintah terpaksa menguras dana puluhan triliun rupiah yang disisihkan dari surplus harga BBM. Soalnya, penghasilan mereka tidak lagi mampu mengejar lonjakan harga yang mendongkrak laju inflasi sampai 8% di ujung tahun 2005, akibat kenaikan harga BBM sebesar 150%—Maret 30% dan Oktober 120%. Sepanjang tahun tersebut laju inflasi mencapai 17%.

Selain pengidap miskin struktural, jutaan orang mendadak jatuh miskin karena dengan penghasilan dalam barometer UMR (upah minimal regional) Rp 800.000 per bulan, mereka masih berada di batas garis kemiskinan. Apalagi keluarga miskin di perkotaan dan pedesaan yang memiliki penghasilan hanya Rp 150.000 sebulan. Dengan daya beli mayoritas masyarakat sebesar itu, sektor riil semakin terpuruk, apalagi setelah mengalami hantaman kenaikan harga BBM. Yang sangat terpukul industri-industri yang menghasilkan barang-barang fabrikan selain pangan dan obat-obatan. Mereka mau tidak mau mem-PHK karyawan karena harus menekan ongkos produksi untuk bisa bertahan hidup. Maka kemiskinan telah menjadi sebuah lingkaran setan.

Dalam kondisi seperti ini, Presiden Susilo menghembuskan “angin sorga” di depan DPR, menjanjikan pengentasan kemiskinan dan pengangguran dengan membuka lapangan kerja seluas-luasnya untuk memberi masyarakat sumber penghasilan. Namun janji ini masih ditunggu-tunggu. SBY mengundang polemik yang berkepanjangan memaparkan angka kemiskinan dan pengangguran yang diragukan akurasinya. SBY mengungkapkan, pemerintah berhasil menurunkan angka kemiskinan dari 23% tahun 1999, menjadi 16% tahun 2005. Angka ini mengundang kritik tajam dari banyak pihak. Misalnya, para ekonom Tim Indonesia Bangkit (TIB), melihat bahwa faktor dua kali kenaikan harga BBM harus dihitung yang memicu lonjakan kemiskinan ke angka 22% sejak Maret dan Oktober 2005.

Mengurangi kemiskinan dan pengangguran semestinya menjadi prioritas utama pemerintahan SBY. Target menurunkan kemiskinan sampai ke angka 8,2% selama lima tahun pemerintahannya masih jauh dari jangkauan. Demikian juga pengurangan tingkat pengangguran sampai 5,1% menjadi sebuah mimpi bilamana faktor riil tidak bergerak maju, sekarang malah semakin terpuruk. Rakyat masih menunggu janji SBY membuka lapangan kerja dan usaha seluas-luasnya. Karena hanya dengan jalan itu, pengangguran bisa dikikis. Semakin banyak penduduk yang bekerja akan banyak orang yang punya daya beli, dan semakin tinggi produktivitas nasional.

Upaya pengentasan pengangguran yang diperkirakan menyentuh angka 11%, masih jauh panggang dari api. Sebenarnya banyak cara untuk mengentas kemiskinan, pengangguran, misalnya dengan mengikis birokrat yang bermental korup, memprioritaskan realisasi anggaran untuk proyek-proyek padat karya, memberi dukungan modal bagi usaha-usaha mikro, baik di pedesaan maupun perkotaan dan menyembuhkan sektor riil dari penyakit kronis.

Ketika pemerintah mengambil keputusan untuk menaikkan harga BBM sebesar 120%, lonjakan harga minyak di pasar tunai internasional sempat menyentuh angka 75 dolar AS per barel. Langkah tersebut diambil untuk menutup defisit anggaran negara yang menganga. Namun kenaikan tersebut menimbulkan dampak ekonomi dan sosial yang sangat luas, dan masih terasa sampai sekarang. Di balik kesuraman tersebut, sekarang muncul titik-titik harapan bagi perbaikan ekonomi, karena harga minyak di pasar dunia sudah turun ke angka 60-an dolar per barel, masih di bawah angka yang diprediksi dalam RAPBN 2007 sebesar 65 dolar per barel. Sedangkan nilai rupiah terhadap dolar AS bergerak turun dan stabil pada kisaran angka 9.000 lebih. Namun yang membuat pemerintah tidak berdaya untuk menaikkan anggaran belanja pembangunan karena tingginya angka pengembalian utang dalam dan luar negeri—masing-masing berjumlah lebih kurang Rp 900 triliun. Rasio pengembalian utang bergerak pada angka 45% dari PDB.

Ekonom terkemuka, Faisal Basri, berbicara dalam forum seminar yang bertopik Krisis Multi Dimensi mengatakan, jika perut kenyang maka rakyat tenang. Ini menunjukkan ekonomi merupakan masalah yang mendasar. Faisal menilai, kecuali pasar modal, angka rapor ekonomi pemerintah tahun pertama merah semuanya, kecuali pasar modal. Ibarat permainan sepakbola, Faisal menggambarkan kesebelasan SBY dihujani gol ketika jabatan Menko Perekonomian dipegang oleh Aburizal Bakrie dan Yusuf Anwar menjadi Menteri Keuangan. Sekarang, setelah jabatan-jabatan tersebut dipegang oleh Budiono dan Sri Mulyani, gawang memang tidak kemasukan gol, tetapi para penyerang tumpul sehingga tidak mampu memasukkan gol ke gawang lawan alias tumpul. Menurut Faisal, menteri-menteri sektoral harus meningkatkan daya saing ekonomi nasional kemudian menciptakan lapangan kerja.

Menyelesaikan tahun kedua, kata Faisal, kelihatannya agak lumayan, angka rapor pemerintah mulai banyak yang tidak merah, nilai tukar rupiah tidak merah, investasi masih merah tapi menjelang hijau dan beberapa indikator makro ekonomi jangka pendek juga luar biasa bagus. Cadangan devisa tidak pernah setinggi seperti sekarang, tapi kalau ditanya mengapa seperti itu? Maka mungkin akan gundah gulana. Sebab menjadikan rapor itu tidak merah dengan biaya yang sangat mahal. Secara politik, pemerintah lebih mengutamakan stabilitas yang semu dengan mengorbankan daya beli rakyat. Kata Faisal, yang menarik dari SBY, ia konsisten dengan presiden image sebab yang dicari citranya.

Menurut Faisal, pertumbuhan sektor riil semakin tertinggal, semakin hari semakin jauh dari PDB, di bawah pertumbuhan rata-rata. Yang paling menderita sektor industri manufaktur. Pertumbuhan sektor pertanian lumayan, tapi sektor pertanian non-pangan, seperti perkebunan besar di mana tidak banyak rakyat terlibat. Program revitalisasi hasilnya babak belur, terutama karena ketidaktegasan SBY.

Setelah setahun babak belur, pemerintah menaikkan harga BBM. Faisal mengibaratkan pemerintah seperti drakula, mengisap darah rakyat dalam bentuk subsidi sehingga rakyat kehilangan daya beli. Uang subsidi yang diambil seperti drakula menyedot darah, itu disajikan kepada orang-orang asing.

Mau nggak menghirup darah rakyat saya ini? Hasilnya datang. Dalam kurun waktu satu tahun terakhir, tidak kurang dari 10 miliar dollar AS uang orang asing datang ke Indonesia, yang membuat ekonomi bagus semua seperti sekarang. Kalau besok ada apa-apa lagi, uang asing itu tinggal kabur ke tempat lain. Membaiknya ekonomi bisa dikatakan 80%, karena darah segar rakyat disajikan pada orang asing. Kenapa orang asing datang? Karena suku bunga naik. Pemerintah memberikan bunga kepada Surat Utang Negara (SUN) yang cukup tinggi, kira-kira 12 % dan SUN ritel 12,05 %. Sedangkan bunga obligasi global hanya 7 %. Jadi siapa yang tidak tertarik. SUN Amerika hanya 5,25%. “Jadi mengalirlah uang ke Indonesia,” kata Faisal.

Menunggu Mukjizat
Memang sudah bertahun-tahun rakyat mengharapkan mukjizat perbaikan ekonomi negara untuk mengangkat pendapatan mereka yang terpuruk. Mereka hampir tidak punya daya beli, kecuali untuk menutupi kebutuhan pokok, terutama pangan, seadanya. Padahal mereka sangat membutuhkan biaya transpor, pendidikan, kesehatan dan papan. Harapan itu tentu tertumpu pada komitmen pemerintah untuk mengalokasi anggaran yang lebih besar bagi sektor-sektor tersebut, terutama perluasan lapangan kerja dan lapangan usaha.

Dalam RAPBN 2007, pemerintah mengusulkan anggaran sebesar Rp 731 triliun dengan asumsi pertumbuhan ekonomi 6,3%, nilai tukar dolar Rp 9.300, inflasi 6,5%, SBI tiga bulan 8,5%, harga minyak 65 dolar AS per barel, produksi minyak 1 juta barel per hari, defisit anggaran -0,9%. Namun sembilan dari sepuluh fraksi di DPR pesimis terhadap RAPBN yang diajukan oleh SBY, 16 Agustus lalu. Fraksi PKS bahkan meminta pemerintah untuk merevisi RAPBN 2007.

Kesembilan fraksi—Golkar, PDIP, PPP, PKB, PAN, PKS, PDS, BPD dan BR—menganggap target pertumbuhan ekonomi (6%) yang ditetapkan pemerintah terlalu tinggi, tidak relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Mereka juga menyangsikan keakuratan data yang digunakan pemerintah untuk menentukan asumsi makro ekonomi dan kebijakan program-program pembangunannya.

Rendahnya penyerapan anggaran pemerintah dan rendahnya minat investor asing untuk menanamkan modal mereka di Indonesia menjadi alasan utama mereka untuk meragukan pencapaian target-target pemerintah. Pandangan tersebut disampaikan pada sidang paripurna DPR (28/8).

Padahal isu kemiskinan dan pengangguran bisa beralih pada isu politik yang panas bilamana muncul pemicu yang terencana atau tidak terencana. Tidak heran bilamana “dukun politik” Prof. Suhardiman meramalkan munculnya “goro-goro” atau kekacauan politik yang dicemaskan bisa mengguncang stabilitas pemerintahan. “Sekarang ini tantangan khususnya adalah masalah ekonomi, sosial, budaya, hukum,” kata Suhardiman dalam wawancara dengan Berita Indonesia (10/10). Suhardiman melihat berbagai bencana sebagai kemurkaan alam terhadap ulah manusia. Tetapi, kata Suhardiman, proses tersebut memang harus dilalui oleh bangsa ini. Dan kepemimpinan SBY sedang diuji.

Bisa jadi pemicunya karena masalah korupsi yang masih merajalela, perusakan lingkungan atau kemiskinan dan pengangguran yang terus menekan kehidupan rakyat. Sebab fakta yang tak terbantahkan, kondisi air dan udara di kota-kota semakin pekat dengan pencemaran, pembalakan hutan belum sepenuhnya terbendung. Dan masih banyak anak-anak Balita yang menderita kurang gizi atau anak-anak usia sekolah yang tidak bisa duduk di bangku pendidikan karena ekonomi keluarga mereka yang sangat minim.

Suhardiman meramalkan munculnya seorang Satrio Piningit, seperti halnya Soekarno dan Soeharto pada era mereka masing-masing. Tokoh ini dalam gambaran Suhardiman, tidak terlalu pintar, tetapi mampu mengatasi keadaan, dan muncul secara tidak terduga. Kata Suhardiman, seorang pemimpin yang diridhoi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa untuk menyembuhkan krisis multi-dimensi yang dialami oleh bangsa Indonesia. Siapakah Satrio Piningit tersebut? Inilah yang masih jadi tanda tanya besar. Dia menilai SBY itu seorang pemikir, tetapi bangsa ini membutuhkan seorang pemimpin yang negarawan.

Tidak Semua Merah
Dibanding dengan pemerintahan Bung Karno 20 tahun, Pak Harto 32 tahun, Habibie 500 hari, Gus Dur 800 hari dan Megawati 3,5 tahun, pemerintahan SBY dalam dua tahun ini masih memadai karena dia mewarisi sisi positif dan negatif dari para pendahulunya. Wapres Jusuf Kalla membantah bahwa angka rapor pemerintah semuanya merah. “Bangsa ini persoalannya besar,” kata Kalla dalam wawancara khusus dengan Media Indonesia (20/10). Jika dibandingkan dengan tiga tahun lalu, pasti warnanya hitam dan angkanya di atas tujuh. Pemerintah berjanji mewujudkan negara yang aman dan damai. Tahun lalu pertumbuhan ekonomi 4%, sekarang 6%, laju inflasi tahun lalu 17% sekarang 6%. Pemerintah juga mampu melunasi utang pada IMF yang berjumlah 7 miliar dolar AS. Pergerakan kurs rupiah terhadap dolar AS relatif terkendali pada angka 9.200-9.100.

Dalam soal amandemen UUD 1945, Kalla menilainya berlebihan, terutama di dalam pengambilan keputusan maupun pengawasan. Penilaian Kalla sejalan dengan evaluasi Forum Rektor bahwa pengambilan keputusan menjadi susah dan tidak produktif. Kalau mengambil keputusan harus melalui komisi demi komisi di DPR. Dalam sistem presidensil, sebenarnya presiden hanya mengurusi masalah anggaran dengan DPR, tetapi sekarang tidak. Gejolak terjadi di bidang hukum. Misalnya, UU yang bisa dimentahkan oleh MK. Selain itu masih ada MA dan KY. KPK bisa masuk langsung ke MA. “Komplikasinya jadi luas sekali,” kata Kalla.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Paskah Suzetta mengantar buku laporan dua tahun pemerintah, Berjuang Membangun Kembali Indonesia, bahwa selama dua tahun, sejak 20 Oktober 2004, tak mudah bagi Presiden SBY dan Wapres JK menjalankan pemerintahan dan mencapai kinerja spektakuler. Penyebabnya, bangsa Indonesia menghadapi masalah yang sangat kompleks dan tantangan yang teramat berat. Tulis Suzetta, untuk mencapai cita-cita bangsa, langkah dan kinerja selama dua tahun ini menunjukkan bukti kesungguhan dan kemampuan pemerintah mewujudkan misi, visi dan program pembangunan. Buku laporan tersebut disiapkan dan disusun oleh Bappenas.

Selain berbagai kekurangan, pemerintah mencatat mencatat keberhasilan di dalam mengatasi konflik berdarah di Aceh. Pemerintah berhasil menciptakan perdamaian di Aceh dengan penandatangan nota kesepahaman bagi penyelesaian konflik berdarah Aceh di Helsinki, Finlandia, 15 Agustus 2005. Polri juga berhasil meredam aksi-aksi teroris dengan menembak mati gembong teror bom Dr. Azahari yang mengotaki berbagai teror bom di Indonesia selama bertahun-tahun. Polisi juga menangkap pelaku aksi teror Bom Bali II. Situasi keamanan dalam negeri secara umum relatif stabil. Meskipun pemberantasan korupsi dinilai berjalan “tebang pilih” banyak kasus korupsi yang sudah bisa dijaring oleh para penegak hukum; kejaksaan, kepolisian dan KPK.

Peranan internasional Indonesia yang makin meningkat, baik di PBB maupun OKI. Indonesia menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB, dan Ketua Komisi HAM PBB. Di dalam penghentian konflik antara Israel dan Hamas di Palestina, dan dengan Hizbullah di Libanon, Indonesia memainkan peranan yang cukup berarti. Delegasi Indonesia ke sidang darurat OKI di Kuala Lumpur awal Oktober membawa lima usulan penghentian agresi Israel terhadap Libanon dan Palestina. Sebagian besar usulan tersebut diakomodasi di dalam sidang tersebut, antara lain, mendesak Dewan Keamanan PBB untuk segera memutuskan gencatan senjata antara Israel, Libanon dan Palestina, melakukan pemulihan pasca perang dan mengupayakan pengiriman pasukan penjaga perdamaian di wilayah konflik. Indonesia sendiri telah mengirim pasukan yang beranggotakan 850 tentara untuk bergabung dengan Pasukan Pemelihara Perdamaian PBB di Libanon Selatan.

Namun masih saja ada penilaian pesimis terhadap kinerja SBY-JK, misalnya datang dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia. Di dalam pernyataan politiknya, KAMMI menilai bahwa selama dua tahun kepemimpinan SBY-JK belum menunjukkan kemampuan kepemimpinan yang diharapkan masyarakat. Kontribusi yang diberikan kepada masyarakat belum sebesar dukungan yang telah diberikan masyarakat kepada pemimpin ini. SBY-JK dinilai belum menunjukkan secara penuh keberpihakannya bagi kepentingan nasional dan kerakyatan. Kebijakan menaikkan harga BBM secara drastis telah menyebabkan kesengsaraan masyarakat secara luas. Penyerahan Blok Cepu kepada Exxon menunjukkan tiadanya sense of belonging terhadap aset nasional yang harus dipertahankan.

Menurut KAMMI, sejak bulan pertama menjabat sebagai pemimpin nasional, ketegasan, kekuatan dan kemampuan manajemen SBY-JK diuji dengan datangnya bencana nasional tsunami di NAD. Namun hasil yang dirasakan kini sangat mengecewakan. Demikian juga penanganan korban gempa di Yogya. Kesungguhan mereka juga diuji di dalam penanganan banjir lumpur Lapindo di Sidoarjo. Padahal eksesnya sangat mengancam kesatuan masyarakat. “Kepemimpinan SBY-JK dipenuhi retorika bukan fakta,” kata KAMMI.

Karena itu, KAMMI menyimpulkan bahwa kepemimpinan SBY-JK sulit diharapkan bisa membawa bangsa Indonesia keluar dari krisis. Alasannya, karena tiadanya ketegasan, dan tidak konkritnya sikap dan kebijakannya. KAMMI mendesak agar pemerintahan SBY-JK lebih berpihak kepada kepentingan nasional dan agenda-agenda penegakan hukum. Supaya dilakukan penggantian terhadap menteri-menteri yang memiliki konflik kepentingan.

Politisi senior Akbar Tandjung menyarankan SBY agar mengubah gaya kepemimpinannya yang terkesan cenderung ragu-ragu. “Sudah seharusnya Presiden mengubah gaya kepemimpinan. Sebagai pemimpin, dia harus tegas meskipun berisiko,” kata Akbar. Mantan Ketua DPR yang berhasil membawa kemenangan bagi Golkar dalam Pemilu 2004 itu, juga menyarankan sudah saatnya Presiden melakukan evaluasi kritis terhadap kinerja para menterinya. Banyak ketidakpuasan publik yang dilontarkan terhadap kinerja para menteri, terutama di bidang ekonomi.
Pemerintah, di dalam memperbaiki kinerjanya, harus berlomba dengan waktu karena memasuki tahun 2007, masing-masing partai mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi Pemilu Legislatif dan pemilihan Presiden tahun 2009. Mungkin waktu yang tersisa tinggal dua tahun lagi. SH (Berita Indonesia 25)

Referensi : http://www.google.com

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s